Rabu, 01 Mei 2013

Kisah Seorang Suami yang Kikir

Ada sepasang suami istri yang berasal dari golongan keluarga kaya raya dan mempunyai perusahaan besar di desa tempat tinggalnya.

mereka berdua memiliki watak yang bertolak belakang, sang istri yang setia dan penurut terhadap kata-kata suaminya, sedangkan sang suami adalah orang yang bijaksana dan berwibawa namun ada sedikit sifatnya buruknya yang sampai sekarang belum hilang yaitu "pelit dan arogan".

sampai pada suatu hari ada seorang pengemis yang meminta sedekah kerumah pasangan suami istri itu, pengemis itu mengetuk pintu dan memberi salam pada pemilik rumah, lalu tak lama kemudian sang istri pemilik rumah itu membuka pintu dan melihat dengan hati yang merasa iba kemudian bertanya kepada pengemis itu "apakah gerangan maksud bapak datang kesini?"

lalu pengemis pun menjawab dengan penuh kerendahan hati "saya berharap ibu sekeluarga bermurah hati untuk memberikan sedikit bantuan"
kikir , ilustrasi sedekah
kemudian sang istri dengan mata yang berkaca-kaca berkata "pak,tunggu sebentar saya masuk sejenak untuk melihat apakah masih ada yang bisa saya berikan kepada bapak."

sang istri pemilik rumah itu berjalan masuk ke rumah menghadap kepada suaminya yang sedang santai di ruang keluarga... lalu sang istri bertanya kepada suaminya.. "ayah, diluar ada seorang pengemis yang memohon sedekah kepada kita yah, apakah kita punya sesuatu yang masih bisa d pakai lalu kita berikan saja kepada pngemis itu?"

sang suami mengerutkan keningnya dan dengan nada lantang berkata "bu,tutup saja pintu depan rumah kita, tak usah memberikan apa-apa kepadanya, bisa saja dia hanya berpura-pura menjadi pengemis"

sang istri yang penurut itu pun tak bisa berbuat apa-apa, ia berjalan menuju pintu depan dengan meneteskan air mata menghampiri pengemis itu, lalu ia berkata

"pak, maafkan saya saya tak bisa memberikan apa-apa kepada bapak dan saya harus menutup pintu rumah ini pak, sekali lagi maafkan saya"

kemudian pengemis itu pun pergi...........


Kisah ini berlanjut.....

Beberapa tahun kemudian

bahtera rumah tangga suami istri kaya raya tadi terkena banyak permasalahan, perusahaan sang suami bangkrut, mereka sering bertengkar dan akhirnya mereka memutuskan untuk bercerai... tak lama kemudian sang istri(yang sekarang telah bercerai) menikah lagi dengan seorang wirausahawan yang ulet dan punya semangat tinggi mencari nafkah hidup

mereka berdua hidup dengan penuh kebahagiaan, dan di karuniai seorang anak laki-laki sampai pada suatu hari datang lagi seorang pengemis sama seperti kejadian yang dialami sang istri pada saat masih dengan suaminya yang dulu...

pengemis itu mengetuk pintu rumah mereka lalu mereka pun membukakan pintu untuk pengemis itu..

dan tanpa panjang lebar sang istri pun memberi sedikit uang kepada pngemis itu atas permintaan suaminya yang sekarang..

pengemis mengarahkan pandangan kearah istri pemilik rumah itu... Tiba-tiba sang istri terkejut dan matanya pun berkaca-kaca dan meneteskan air mata, kemudian ia pun bergegas masuk ke rumah meninggalkan pengemis itu dan menemui suaminya yang sekarang di ruang keluarga.

sang suami pun bertanya... "istrku, kenapa engkau menangis..apakah kau menangis karena aku mnyuruhmu memberikan sedekah?"

lalu sang istri yang menangis tersedu-sedu menjawab... "tidak suamiku, tetapi aku menangis karena melihat sendiri karmaku, apakah kau tahu siapa pengemis yang tadi memohon sedekah kepada kita? Dia adalah mantan suamiku yang dulu"

sang suami pun bertanya dan menjawab..

"istriku, apakah kau juga tau siapa, pengemis yang dulu di usir oleh suamimu yang dulu?"

I T U A D A L A H A K U-

Read more »

20 Hal Menjadi Pemenang

Kali ini kita akan memahami dari ayat-ayat Firman Tuhan sedikitnya 20 hal yang bisa membuat langkahmu tetap untuk menjadi seorang pemenang!
winner
1. Mengapa saya berkata "Saya tidak bisa" jika Alkitab mengatakan bahwa saya bisa melakukan segala sesuatu di dalam Dia yang memberi kekuatan kepada saya (Fil 4:13)?

2. Mengapa saya merasa kurang jika saya tahu bahwa Allah akan memenuhi segala keperluan saya menurut kekayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus (Fil 4:19)?

3. Mengapa saya harus merasa takut jika Alkitab berkata... bahwa Tuhan tidak memberi saya roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, ketertiban (2 Tim 1:7)?

4. Mengapa saya harus merasa kurang iman jika saya tahu bahwa Allah telah mengaruniakan kepada saya ukuran iman tertentu (Rom 12:3)?

5. Mengapa saya menjadi lemah jika Alkitab berkata bahwa Allah adalah terang dan keselamatan saya dan bahwa saya akan tetap kuat dan akan bertindak (Maz 27:1, Dan 11:32)?

6. Mengapa saya harus membiarkan iblis menang atas hidup saya jika Roh yang ada di dalam saya lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia (1 Yoh 4:4)?

7. Mengapa saya harus pasrah kalah jika Alkitab berkata bahwa Allah dalam Kristus selalu membawa kita di jalan kemenanganNya (2 Kor 2:14)?

8. Mengapa saya harus kekurangan hikmat jika Kristus sendiri telah menjadi hikmat bagi saya dan Allah akan memberi hikmat jika saya minta padaNya (1 Kor 1:30; Yak 1:5)?

9. Mengapa saya harus depresi jika saya dapat mengingat bahwa saya dapat berharap pada Allah yang kasih setiaNya tidak habis-habisNya setiap pagi (Rat 3:21-23)?

10. Mengapa saya harus kuatir, resah, dan rewel jika saya dapat menyerahkan segala kekuatiran saya pada Tuhan yang memelihara saya (1 Pet 5:7)?

11. Mengapa saya harus selalu hidup dalam beban jika saya tahu bahwa di mana ada Roh Allah, ada kemerdekaan, dan Kristus telah memerdekakan kita (2 Kor 3:17; Gal 5:1) ?

12. Mengapa saya harus merasa terhukum jika Alkitab berkata bahwa saya tidak ada lagi di bawah penghukuman sebab saya di dalam Kristus (Rom 8:1) ?

13. Mengapa saya harus merasa sendirian jika Yesus berkata Ia akan selalu menyertai saya, tidak akan membiarkan dan tak akan meninggalkan saya (Mat 28:20; Ibr 13:5)?

14. Mengapa saya harus merasa terkutuk atau merasa saya menjadi korban nasib sial jika Alkitab berkata bahwa Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum taurat sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu (Gal 3:13-14) ?

15. Mengapa saya harus merasa tidak puas dalam hidup ini jika saya,seperti Paulus, bisa belajar untuk menjadi puas dalam segala keadaan (Fil 4:11) ?

16. Mengapa saya harus merasa tidak layak jika Kristus telah dibuat menjadi dosa karena kita, supaya di dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah (2 Kor 5:21) ?

17. Mengapa saya merasa takut disiksa orang jika saya tahu bahwa jika Allah di pihak saya tidak ada yang akan melawan saya (Rom 8:31) ?

18. Mengapa saya harus bingung jika Allah adalah Raja Damai dan Ia memberi saya pengetahuan melalui RohNya yang diam di dalam kita (1 Kor 14:33;2:12)

19. Mengapa saya harus terus-menerus gagal dan jatuh jika Alkitab berkata bahwa sebagai anak Allah saya lebih daripada orang-orang yang menang dalam segala hal, oleh Dia yang telah mengasihi saya (Rom 8:37)?

20. Mengapa saya harus membiarkan tekanan hidup mengganggu saya jika saya dapat punya keberanian karena tahu Tuhan Yesus telah menang atas dunia dan penderitaan (Yoh 16:33)? " Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah ! " (Mazmur 46:11a)

Read more »

Rahasia Sukacita

Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. Flp. 4:7.

Ada sebuah kisah kuno dari Tiongkok:

Ada seorang petani tua yang memiliki seekor kuda yang digunakan untuk mengolah ladangnya. Suatu hari kuda tersebut melarikan diri di bukit-bukit dan ketika para tetangganya mendengar berita itu, mereka bersimpati kepada orang tua atas nasib buruknya. Namun jawab si petani itu, "Nasib buruk? Nasib baik? Siapa yang tahu?"

Seminggu kemudian, kuda itu kembali dengan membawa kawanan kuda liar dari pegunungan dan kali ini para tetangga mengucapkan selamat kepada petani tua akan keberuntungannya. "Nasib baik? Nasib buruk? Siapa yang tahu?" kata si petani tua itu.

Kemudian, ketika anak si petani tua itu berusaha menjinakkan salah satu kuda liar, ia terjatuh dari punggung kuda itu dan kakinya patah. Semua tetangganya kembali setuju bahwa ini adalah sebuah keberuntungan yang sangat buruk. Petani itu menjawab, "Nasib buruk? Nasib baik? Siapa yang tahu?"

Beberapa minggu kemudian, tentara dari pemerintah masuk ke desa-desa dan memaksa setiap pemuda yang berbadan sehat untuk pergi berperang dalam perang yang berdarah. Ketika mereka melihat bahwa anak petani tua ini mengalami patah kaki, mereka tidak memilihinya. Beberapa minggu setelah peperangan, ada berita bahwa banyak anak-anak dari tetangga si petani tua itu berguguran di medan perang. Semua penduduk desa itu bersedih hati dan berkata kepada si petani tua itu sangat beruntung bahwa anaknya tidak ikut dalam perang. Petani tua itu kembali menjawab, "Nasib baik? Nasib buruk? Siapa yang tahu?"


THINGS TO LEARN:

Kejadian dalam kehidupan kita ini mirip kisah di atas. Kadang sepertinya segala sesuatu berjalan lancar sebagaimana mestinya, namun di lain waktu, segala sesuatu berjalan di dalam situasi yang buruk. Nah, pertanyaannya apakah kita membiarkan perasaan 'up and down' karena keadaan semacam itu mendikte kehidupan dan cara pandang kita terhadap kehidupan ini? Apakah ketika segala sesuatu berjalan dengan baik, lalu perasaan kita menjadi sukacita dan berpikir Immanuel - Tuhan beserta kita? Tapi jika sebaliknya, ketika kita sedang dalam situasi yang buruk, lalu perasaan kita menjadi patah semangat dan berpikir bahwa Tuhan meninggalkan kita?

Lagi-lagi kita belajar dari rasul Paulus di dalam Filipi 4. Rasul Paulus telah belajar untuk bersukacita (ay. 4 - Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!), bahkan dia mengalami damai sejahtera dalam semua keadaan (ay. 7). Rasul Paulus bersukacita ketika hal-hal baik terjadi dalam hidupnya, namun dia pun bersukacita ketika hal-hal buruk itu terjadi - ingat, waktu dia menulis surat kepada jemaat di Filipi, mereka sedang terancam aniaya dan dia sedang di dalam penjara. Sepertinya anjuran nats di atas tidak realistis dan mustahil untuk dilakukan, tetapi perintah ini dianjurkan (ay. 4) oleh rasul Paulus, saat dia mengalami penderitaan!
alkitab
Mengapa rasul Paulus bisa mengalami kebahagiaan dan sukacita yang luar biasa? Karena rasul Paulus mempunyai damai sejahtera dari TUHAN, yang melampaui segala akal, di dalam Kristus Yesus. Sukacitanya tidak tergantung pada situasi baik maupun buruk, sukacitanya tidak tergantung pada peristiwa-peristiwa yang dialaminya. Tapi sukacita yang keluar dari hati, jiwa dan pikiran yang telah dipenuhi damai sejahtera TUHAN Yesus Kristus.

Persoalan hidup bisa saja membebani kita secara fisik, emosi dan rohani, namun saat kita belajar mempercayai TUHAN, maka kita dapat memiliki kedamaian yang tidak hanya melampaui segala pemahaman, tetapi juga mengatasi kecemasan kita, karena TUHAN telah membuat hati, jiwa dan pikiran kita menjadi tenang. Sehingga kita dapat berkata, bahwa segala sesuatu TUHAN turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia ( Roma 8:28 ). - Nah, pertanyaan terakhir, apakah kita sekarang telah memiliki damai sejahtera dari TUHAN YESUS KRISTUS, seperti rasul Paulus?



WISDOM WORDS:

"Di dalam Alkitab tidak pernah dituliskan, bahwa sukacita itu tergantung pada situasi dan peristiwa."

"Situasi di mana Anda hidup tidak harus hidup dalam Anda."

Read more »