Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Januari 2014

Carilah Tuhan saat kesesakanMu

CARILAH TUHAN SAAT KESESAKANMU

            Inilah pengalaman seorang pemuda. Ketika saya masih muda, seorang kawan mengajak saya melakukan “saat teduh rutin” bersamanya. Saya tahu bahwa membaca Alkitab, berdoa, dan menghadiri kebaktian secara rutin sangatlah penting, dan saya ingin meluangkan waktu bersama Allah. Namun, rencana kawan saya itu tidak pernah berhasil saya terapkan. Saya memang mengikuti rutinitasnya selama satu atau dua minggu, bangun awal setiap pagi untuk membaca Alkitab dan berdoa. Saya menerapkan disiplin itu pada diri saya sendiri, seperti hal nya melakukan push-up 50 kali setiap hari. Namun itu tidak berlangsung lama. Akhirnya saya menyerah. Saya tidak tahu bagaimana memenuhi kerinduan hati saya untuk meluangkan waktu bersama Allah.
            Kemudian suatu hari saya tersentak saat membaca tentang ucapan yang dilontarkan yesus kepada perempuan di dekat sumur: “Bapa mencari” mereka yang akan menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yohanes4:23). Saat itulah saya menyadari bahwa Allah lah yang berinisiatif menaruh kerinduan di dalam hati saya supaya meluangkan waktu bersama-Nya.
            Pemazmur mengatakan bahwa ia menanggapi panggilan Tuhan untuk mencari wajahnya (Mazmur27:8). Gagasan bahwa Allah rindu untuk bersekutu dengn saya yang kini menarik saya ke dalam hadiratNya. Saat teduh saya bersama Allah tidak lagi menjadi kewajiban yang membosankan, melainkan sebagai tanggapan saya kepada Bapa yang rindu meluangkan waktu bersama saya. Manusia akan menemukan dan akan berhadapan muka muka apabila ia mencari wajah Tuhan. Jika Tuhan memalingkan wajahNya dari bangsa Israel karena mereka seringkali membuat jengkel hati Tuhan. Pembiaran yang dilakukan oleh Tuhan dengan tindakan mereka dihukum, mereka dibuang, mereka ditawan, Tuhan sedang tidak memperdulikan mereka, Allah pura pura tidak mau tahu, Allah sengaja membiarkan mereka ditindas oleh bangsa lain yang lebih kuat.

Renungan:
Sesungguhnya jika Tuhan membiarkan mereka dihukum, dibuang, ditindas bukan berarti mereka dibiarkan. Hukuman seperti itu hanya bersifat sementara agar mereka sadar akan dosa dan pelanggaran mereka.


Ayat Alkitab
Mazmur 10:1
“Mengapa Engkau berdiri jauh jauh, ya Tuhan, dan menyembunyikan diriMu dalam waktu-waktu kesesakan?”

Read more »

Jumat, 10 Januari 2014

Jangan melupakan kebaikan Tuhan

JANGAN MELUPAKAN KEBAIKAN TUHAN

            Setiap orang mungkin pernah mengalami kebaikan Tuhan dalam hidupnya, walaupun kadangkala kita tidak menyadari kebaikan Tuhan tersebut. Ada kebaikan Tuhan secara khusus yang kita alami, seperti berkat di kala kita kekurangan, kesehatan di kala kita sakit, namun banyak juga berkat Tuhan secara umum yang kita alami, seperti nafas hidup yang Dia beri setiap hari, makanan dan minuman yang kita makan/minum setiap harinya. Itu semua adalah kebaikan Tuhan yang tidak bisa kita lupakan.
            Itulah juga yang dialami oleh Daud. Dia telah mengalami banyak kebaikan Tuhan dalam hidupnya, baik itu kebaikan secara umum maupun kebaikan secara khusus, dan ia tidak mau melupakan kebaikan Tuhan tersebut dalam hidupnya. Ia bertekad untuk selalu mengingatnya. Ia berkata kepada dirinya sendiri, seperti kepada orang lain: Pujilah Tuhan hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikanNya. Ia mengingatkan dirinya sendiri/jiwanya agar ia jangan pernah melupakan kebaikan Tuhan dalam hidupnya.
            Namun seringkali kita begitu cepat lupa akan kebaikan Tuhan dalam hidup kita. Kita melupakannya mungkin ketika kita sudah mulai ada dalam puncak keberhasilan hidup kita. Kita mulai memegahkan diri kita seolah olah apa yang telah kita capai dan miliki dalam hidup kita adalah adalah semata-mata adalah karena kuat kita sendiri. Demikian juga kesusahan kesusahan hidup bisa membuat kita melupakan kebaikan Tuhan. Ketika kita tidak melihat pertolongan dan kebaikan Tuhan saat ini kita mulai banyak mengeluh dan bersungut sungut dalam hidup kita. Kita mulai melupakan kebaikan Tuhan yang pernah kita alami dalam hidup kita. Tetapi apapun itu kita tidak boleh melupakan kebaikan Tuhan dalam hidup kita, baik ketika kita dalam kadaan sukses maupun ketika kita masih mengalami banyak kesusahan hidup.
            Bunyi salah satu nyanyian lama berkata bahwa jika kita mulai menghitung hitung (mengingat) berkat (kebaikan) Tuhan dalam hidup kita maka kita akan kagum kepadaNya. Itulah kunci dan energy yang membuat kita mempu tetap memuji Tuhan di dalam hidup kita.


Renungan:
Pada dasarnya kita bukanlah orang baik – tetapi kita menjadi baik karena Allah terlebih dahulu menunjukkan kasih setia, dan kebaikannya. Karena itu, janganlah menutup apa terhadap berkat Tuhan yang kita terima.


Ayat Alkitab

Mazmur 103:13
“Seperti bapa sayang kepada anak anak nya, demikian Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia”

Read more »

Kamis, 09 Januari 2014

Jangan merugikan sesama

JANGAN MERUGIKAN SESAMA

            Setiap pertumbuhan membawa tekanan baru. Setiap tekanan baru membawa tantangan dan pilihan. Apakah kita mau berubah sesuai dengan pergerakan Allah dan tetap menjadi kantong kulit baru, yang sanggup diisi dengan air anggur baru? Atau, apakah kita mau mempertahankan apa yang sudah ada dan membangun perlindungan, agar supaya yang lalu tidak akan hilang walau akibatnya kita kehilangan fleksibilitas dan menjadi kanton kulit yang keras? Ingatlah bahwa kantong kulit yang keras tidak mampu menerima air anggur yang baru. Apa pilihan kita?
            Sayang sekali, bukti sejarah menunjukkan kecenderungan manusia adalah menjadi kantong kulit yang keras. Ini dikarenakan manusia pada umumnya takut terhadap hal hal yang baru dan merasa lebih aman dengan yag lama. Kecenderungan itu telah melihat Gereja mula-mula sehingga Rasul Paulus berkata kepada jemaat-jemaat Galatia: “Hai orang orang Galatia yang bodoh, siapakah yang telah mempesona kamu?
            Hukum perekonomian bagi umat Israel, melarang agar jangan saling merugikan. Tetapi hendaklah saling menguntungkan. Biasanya, pedagang yang ingin mendapat untung banyak ia akan berdusta kepada si pembeli. Dalam dunia ekonomi semakin banyak permintaan maka kecenderungan harga akan menaik. Pedagang seperti ini tidak perduli dengan kemampuan si pembeli. Baginya, yang terpenting bagaimana supaya mendapat untung yang lebih banyak.
            Larangan agar jangan saling merugikan antara pembeli dan penjual merupakan sikap etis cara berdagang dalam dunia Perjanjian Lama. Solidaritas social bagi umatNya perlu dipelihara, karena dengan demikianlah mereka bisa bertahan hidup menghadapi bangsa sekitar. Sebab, bangsa bangsa di sekitar Israel tidak memperdulikan kesulitan mereka apalagi mereka dianggap sebagai bangsa pendatang di daerah Palestina.
            Dalam dunia Perjanjian Baru, sikap etis berekonomi yang diajarkan Yesus, kita harus bersikap dan bertindak wajar terhadap sesame. Tuhan Yesus mengasihi orang miskin, orang yang tidak berpunya, mereka yang lapar. Hendaklah orang Kristen memperhatikan kebutuhan sesama. Karena mereka juga adalah bagian dari diri kita.

Renungan:
Sikap rakus, tamak, dan loba, jelas sangat merugikan orang lain. Kita diingatkan supaya jangan merugikan orang lain, meskipun kita berpeluang mendapat keuntungan sesuai keinginan namun nas kita mengatakan supaya jangan saling merugikan.

Ayat Alkitab
Imamat 25:14
“Apabila kamu menjual sesuatu kepada sesamamu atau membeli dari padanya, janganlah kamu merugikan satu sama lain”

Read more »

Rabu, 08 Januari 2014

Tuhan melawat hambaNya

TUHAN MELAWAT HAMBANYA

            Zakaria orang yang paling berbahagia karena Allah melalui Malaikat langsung memberitahukan tentang anaknya yang akan lahir. Elizabet, istri Zakaria yang berusia lanjut dan mandul, merasa tidak mungkin Ia akan mengandung. Namun, kejutan baginya Malaikat berkenan, melawat hambanya untuk memberitahukan bahwa dia akan mengandung seorang anak laki-laki, karena tidak percaya ia pun dibuat Tuhan bisu selama mengandung. Jika menurutnya hal melahirkan suatu yang tidak mungkin, namun bagi Tuhan tiada yang Mustahil. Inilah yang dirasakan oleh keluarga Zakaria, Tuhan itu baik, Tuhan itu mengasihi hambaNya.
            Kunjungan Malaikat Tuhan itu pula yang membuat Zakaria mampu bernubuat bahwa pernyataan Malaikat tentang anak yang lahir itu, bernama Yohanes, dialah sebagai perintis Mesias, Juruselamat yang akan datang ke dunia. Luapan kegembiraannya bukan sekedar ia beroleh karunia, berupa kelahiran sang anak, lebih dari itu. Nubuatnya, Messias, Juruselamat yang dinantikan segera memulai pelayananNya. Apa yang dirindukan bangsaNya, apa yang dinantikan yang diharapkan, dan yang ditunggu-tunggu bahwa telah tiba waktu untuk menyambut sang Messias. Keyakinan Zakaria karena Tuhan yang memberitahukan langsung,
            Tuhan memakai Yohanes Pembaptis sebagai perintis agar bangsa Israel menjadi percaya. Kini, Allah mengutus dan menetapkan Yohanes Pembaptis sebagai saksi untuk sang Mesias yang akan segera tampil di pentas kehidupan umatNya. Karakter Yohannes Pembaptis dikenal kesederhanaanya, dengan tema khotbah pertobatan, dan pembaptisan Yohanes di sungai Yordan. Inilah sebagai rintisan jalan bagi Messias. Proklamasi Injil sebagai kabar kesukaan akan memasuki kehidupan agamawi Israel.
            Perbuatan Allah kepada Zakaria, dan Pengutusan Yohanes Pembaptis sebagai perintis Messias, inilah Proklamasi Injil di tanah Palestina bahwa sejak itu kerajaan Allah telah tiba, Mari dengarkan, lihat, dan rasakan karya pelayanan sang Mesias. Jika mereka selama ini hanya sebatas menunggu janji, menantikan pengharapan para nubuatan. Tetapi, dengan kehadiran Yohannes Pembaptis semakin nyatalah bahwa Messias itu adalah Yesus, Kristus, Anak Allah. Kerendahan hati, kerendahan dirinya membuat orang banyak semakin yakin bahwa Kristus benar telah menjadi manusia di dalam diri Yesus.
Renungan:

Kita bersukacita apabila Tuhan melawat kita, seperti yang terjadi kepada Zakaria baginya yang dirasa tidak mungkin tetapi Allah justru menunjukkan belas kasihNya kepada mereka yang rendah hati.
Ayat Alkitab:

Lukas 1:67-68

“Dan Zakharia, ayahnya, penuh dengan Roh Kudus, lalu bernubua, katanya: “Terpujilah Tuhan Allah Israel, sebab Ia melawat umatNya dan membawa kelepasan baginya”


            

Read more »

Selasa, 07 Januari 2014

Jangan gentar memberitakan Injil

JANGAN GENTAR MEMBERITAKAN INJIL

Di ayat kesebelas Paulus mengatakan, “kenakanlah seluruh perlengkapan persenjataan Allah”. Sedangkan pada ayat 14, Paulus merinci alat perlengkapan perang, yaitu; berdiri tegap, berikat pinggang kebenaran, kaki berkasut kerelaan. Rasul Paulus memakai bahasa frasa sastra, menggambarkan tugas dengan alat peraga dunia militer. Apakah maksud dari frasa ini? Perlengkapan senjata Allah merupakan suatu ungkapan metafora yang menunjukkan seperangkat perlindungan yang Allah sediakan. John Stott menyatakan keenam metafora tersebut menggambarkan kebenaran, ketulusan, berita injil damai sejahtera, iman, keselamatan, dan Firman. Semua sudah Allah sediakan.
Tugas kita hanyalah mengenakannya. Untuk mengenakan kebenaran tentu kita perlu mengerti kebenaran Allah dan menghidupi kebenaran itu. Ketika mengenakan ketulusan tentu kita perlu terus menerus mengoreksi hati dan pikiran kita. Dalam mengenakan berita injil tentu kita perlu memberitakan keselamatan kepada setiap orang. Untuk mengenakan iman tentu kita perlu berserah di dalam doa. Pada saat kita mengenakan keselamatan tentu kita perlu mengingat karya Kristus di kayu salib. Dan untuk mengenakan Firman tentu kita harus mengerti dan menguasai Alkitab dengan benar. Secara sederhana mengenakan perlengkapan senjata Allah artinya, memiliki kerohanian yang sehat, mempersiapkan perlengkapan yang dibutuhkan, dan itu diperoleh dari disiplin rohani yang baik. (doa, saat teduh, PI pribadi, Pa pribadi, Bible reading).
Memang untuk bisa bertahan terhadap strategi iblis, Allah akan memberi kita kuasa, tetapi kita juga punya tanggung jawab untuk mengusahakan kesehatan rohani kita. Inilah strategi tandingan yang Firman Tuhan nyatakan. Berkisar kepada Tuhan dan berusaha memiliki kehidupan rohani yang sehat.
Ada tiga kata kunci sebagai persiapan memberitakan Injil, yaitu: Siap, jangan terlalu banyak pertimbangan, jangan menunda panggilan Tuhan, siap sedia setiap saat. Kebenaran, dalam memberitakan Injil, kita harus berani menegakkan kebenaran, janganlah dikalahkan oleh tipu muslihat Dunia. Orang benar mungkin bisa dikalahkan tetapi kebenaran tidak akan kalah dengan kuasa Firman Allah. Kerelaan; memberitakan injil hendaknya dilakukan tanpa paksaan, jangan karena disuruh, tetapi Allah yang memanggil dan dia yang memberi upah.

Renungan:

Allah memanggil dan mengutus para hambaNya pastilah Ia memperlengkapinya dengan kesiapan yang cukup. Strategi memberitakan Injil diibaratkan kepada orang yang akan maju ke medan perang. Karena itu, hendaklah kita siap sedia diutus memberitakan Injil.


Ayat Alkitab:

Efesus 6:14-15
“Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakn Injil damai sejahtera”.

Read more »

Senin, 06 Januari 2014

Sudahkah anda melihat Keselamatan

SUDAHKAH ANDA MELIHAT KESELAMATAN

Setiap orang memiliki kerinduan (keinginan), cita cita yang hendak dicapainya, termasuk orang Lansia masih mempunyai cita cita/keinginan/kerinduan. Di dalam Lukas 2 dikisahkan tentang seorang lansia bernama Simeon, yang mempunyai kerinduan untuk bertemu muka dengan muka kepada Mesias. Pada waktu kerinduan hatinya terpenuhi. Dia berkata: “Sekarang Tuhan, biarkanlah hambaMu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firmanMu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari padaMu…” (Lukas 2:29,30)
            Bagaimanakah keadaan hati dan kehidupan Simeon? Simeon adalah seorang yang benar. Simeon adalah seorang yang saleh. Simeon adalah seorang yang hidupnya dikuasai dan dipimpin oleh Roh Kudus. Simeon adalah yang rindu bertemu muka dengan muka dengan Mesias/Tuhan. Ada 4 (empat) hal hendaknya dimiliki orang Kristen,  Pertama, Hidup sebagai orang yang benar. Seorang yang benar berarti ia seorang yang hatinya lurus dan tulus. Orang yang benar bersumber dari hati, berdasarkan iman yang benar kepada Allah serta kasih dan memiliki integritas tinggi, “yaitu, yang ada di hati ada di mulut. Perbuatan dengan hatinya sama. Seorang yang benar akan berbicara benar, tidak bohong dan menipu, berlaku jujur dan bisa dipercaya, tidak akan berbuat curang.
            Kedua, hidup sebagai orang saleh, berarti ia seorang yang beriman, takut akan Tuhan, beribadah kepada Tuhan, hormat kepada Tuhan, serta suka menyenangkan hati Tuhan. Ketiga, adanya sikap rindu kepada Tuhan. Orang seperti ini siang dan malam senantiasa mencari Tuhan. Ia menyerahkan dirinya untuk dipimpin oleh Tuhan. Keempat, mengakui kemahakuasaan Tuhan atas hidupnya. Bangsa Israel menyadari bahwa Mesias adalah satu satu nya raja yang diharapkan oleh mereka sebagai pemimpin politik dan untuk melawan bangsa bangsa yang dianggap mereka lebih besar dan lebih kuat.

Renungan:
Sebagaimana Simeon telah bertemu dengan sang Juruselamat seperti yang dinubuatkan dan dia sudah merasa lega, puas, dan percaya terhadap masa depan bangsanya. Karena itu janganlah takut karena Yesus telah menjadi Juruselamat umat manusia dan dunia.


Ayat Alkitab:
Lukas 2:29-30
“Sekarang, Tuhan, biarkanlah hambaMu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firmanMu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari padaMu”

Read more »

Sabtu, 04 Januari 2014

Dihina Tapi Dimuliakan Kristus

DIHINA TAPI DIMULIAKAN KRISTUS
Dr. Torrey berkata, “Kegagalan untuk memiliki iman di dalam Yesus Kristus bukanlah kemalangan, tetapi adalah dosa. Dosa yang sangat menyedihkan, mengerikan, layak dihukum”. Nabi Yesaya menggambarkan dosa menghina dan menolak Kristus, kebobrokan batiniah yang menyebabkan kita menutup muka dari Kristus. Bukti terbesar bahwa kita adalah manusia yang rusak total (total depravity) yaitu, ketika kita berpikir sangat sedikit tentang Yesus Kristus itu sendiri. Bukti terbesar bahwa kita layak menerima penghukuman kekal di dalam lautan api adalah karena kita dengan sengaja dan terbiasa menutup muka kita dari Dia.
Dalam kondisi yang belum terbangun kita menghina Yesus Kristus itu sendiri. Dalam keadaan kerusakan total kita, kita tidak mengakui Yesus Kristus itu sendiri. Kecuali hati nurani kita ditusuk, kecuali kita merasakan ancaman mengerikan karena dosa dosa kita, dan penghukuman kekal yang mengerikan, kita akan terus menerus menghina dan menolak Yesus Kristus itu sendiri.
Di dalam gereja gereja kita, dapatkah kita melihat itu secara terus menerus. Ketika mereka mendengarkan pengakuan kita di ruang pemeriksaan (inquiry room) setelah pemberitaan Firman Tuhan selesai, kami mendengarkan – kita menjelaskan berbagai hal. Kita berbicara tentang ayat Alkitab. Kita berbicara tentang “menyadari” hal ini atau hal itu. Kita menjelaskan kepada mereka tentang apa yang kita rasakan dan apa yang telah kita lakukan. Kita akhirnya berkata “Kemudian saya datang kepada Yesus”. Setelah itu mereka meminta kita untuk menjelaskan Yesus, pinta mereka. Kita tidak memiliki sesuatu pun untuk dikatakan tentang Yesus Kristus itu sendiri.
Ada kecenderungan jahat di antara orang-orang yang meninggalkan Kristus itu sendiri diluar dari Injil. Mengetahui rencana keselamatan tidak dapat menyelamatkan kita! Mempelajari banyak tentang Alkitab tidak dapat menyelamatkan kita! Mendengarka banyak Khotbah tidak dapat menyelamatkan kita! Bahkan merasakan kesedian yang mendalam karena dosa dosa kita tidak dapat menyelamatkan kita! Tidak ada apapun yang dapat menolong kita kecuali berhenti menghina dan menolak Dia – kecuali kita berhenti menutup muka dari Dia – kecuali kita ditarik kepada Yesus Kristus itu sendiri!

Renungan:
Ya Tuhan, aku akan berhenti dan merenungkan betapa karena perilaku kamilah yang membuat engkau terhina, kami permalukan, kami sakiti jiwaMu, bahkan menyalibkanMu.
Ayat Alkitab:

“Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan”

Read more »

Jumat, 03 Januari 2014

Hendaklah Rajin Bekerja

HENDAKLAH RAJIN BEKERJA
Kitab Hagai berisi peringatan yang disampaikan secara umum kepada seluruh rakyat Israel yang kembali dari pembuangan. Selama bertahun tahun mereka kembali dari pembuangan dan sampai pada saat peringatan ini diberikan mereka ternyata tidak memperhatikan Bait Suci, Bait Suci tetap dalam bentuk reruntuhan akibat invasi Negara asing ke Israel. Rakyat Israel sibuk mengurus diri dan keluarga masing masing dan tidak ada semangat untuk membangun kembali Bait Allah yang rusak. Keadaan inilah yang membuat mereka satu bangsa berada dalam keadaan miskin, panen mereka gagal dan mereka mengalami penderitaan yang besar. Dalam keadaan demikian Allah melalui Nabi Hagai mengingatkan mereka akan kesalahan mereka, yaitu bahwa selama itu mereka telah mendahulukan kepentingan mereka dibanding mengutamakan Tuhan (Hagai 1:3-11).
Pada zaman Hagai, pembangunan Bait Suci lebih mengarah kepada Bait Suci secara fisik, namun saat ini, peringatan ini datang kepada kita agar kita lebih lagi memperhatikan bangunan Bait Suci secara Rohani. Secara fisik, bangunan kita sudah bagus, namun apakah bangunan rohani kita sudah berdiri dengan megah? Ataukah masih ada reruntuhan disana sini yang belu dibereskan? Allah menginginkan keindahan Bait Suci kita secara Rohani (Pribadi dan Pelayanan). Allah ingin kita lebih lagi bangkit dan bekerja untuk memperindah bangunan rohani kita sehingga Tuhan berkenan hadir dalam bangunan itu dan memberikan berkat-berkat-Nya.
Ketika kita mempunyai suatu rencana untuk melakukan sesuatu, tentu saja kita tidak bias mengerjakannya tanpa ada komitmen untuk melakukannya sesuai aturan yang ada. Tuhan berkata kepada bangsa Israel : kuatkanlah hatimu…. Dari kata kata ini terlihat satu ajakan Tuhan kepada Israel untuk memiliki ketetapan hati (komitmen) dalam membangun kembali Bait Suci. Tuhan menginginkan mereka memiliki semangat kembali.
Demikian pula dalam pelayanan kita. Agar kita bisa memiliki bangunan rohani yang megah, maka pertama-tama harus ada ketetapan hati/komitmen. Komitmen merupakan semacam ikatan yang akan menolong kita untuk terus berjalan dala rencana dan pekerjaan kita sesuai dengan aturan yang ada.
Renungan:
Renungan ini mengingatkan bahwa Tuhan kembali memberkati kita seperti Allah memberkati bangsa Israel sepulangnya dari pembuangan.

Ayat Alkitab
“Kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri, demikianlah Firman Tuhan; bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah Firman Tuhan semesta alam”



Read more »

Kamis, 02 Januari 2014

Setialah dalam Pengharapan

SETIALAH DALAM PENGHARAPAN
            Kita bisa memiliki pegharapan kepada Allah di dalam penderitaan, karena ada dua alasan yang dipaparkan Rasul Paulus, yaitu; Pertama, Penganiayaan, fitnahan, kesengsaraan, dan segala bentuknya bukan wujud kebencian Allah atau kutukan Allah. Segala bentuk penderitaan justru membuktikan Allah itu mengasihi umat-Nya sehingga Ia ingin mendewasakan imannya. Jemaat mula mula adalah saksi matanya. Mereka sungguh sungguh beriman di dalam Kristus, sehingga karena pengharapan, mereka harus menderita menjadi santapan bagi singa yang lapar, dibakar hidup hidup. Bapa bapa gereja yang agung juga mengalami hal yang sama. Dr. Martin Luther, seorang reformator gereja juga mengalami penderitaan yaitu dibuang dari gereja karena dianggap membangkang, padahal ia ingin menegakkan iman Kristen sejati di atas dasar Alkitab, Bahkan kaum Puritan (Calvinis) harus mengungsi ke Negara lain karena mereka dikucilkan dan dibuang.
            Kedua,  selain kasih dan pemeliharaan Allah, kita dapat sanggup menghadapi berbagai penderitaan, karena ada penghiburan dan pimpinan Roh Kudus. Roh Kudus mebuat orang yang dipimpin-Nya sadar, taat, patuh kepada perintah Kristus. Di dalam Kis 16:9, Roh Kudus mencerahkan Paulus melalui sebuah mimpi agar ia memberitakan Injil kedaerah Makedonia. Tetapi uniknya, di daerah ini, tepatnya di kota Filipi, Lukas mencatat bahwa Paulus dan Silas difitnah dan dipenjarakan (Kis 16:19-34). Kalau kita melihat sekilas, maka kita mungkin bertanya mungkinkah Roh Kudus memimpin hamba-Nya mengalami penderitan?
            Tetapi disini, Alkitab sendiri memberitakan bahwa Roh Kudus memimpin hamba-Nya mengalami penderitaan. Lalu, apa tujuannya? Meskipun seolah kelihatan negative, tetapi Allah menunjukkan bahwa tujuannya adalah baik. Belajarlah untuk mengalami dan mengenali kehendak dan pimpinan-Nya melalui Roh Kudus. Lalu, percayalah bahwa pimpinan-Nya selalu baik bagi kita menurut kehendak-Nya meskipun seolah-olah pimpinan Roh Kudus selalu kelihatan Negatif. Nats ini mengajarkan, bahwa pengharapan kita atas dasar Yesus Kristus tidak akan pernah mengecewakan dan sekarang ini kita punya Roh Kudus yang tinggal bersama kita. Tugas kita adalah supaya kita tidak lepas dari pengharapan itu dan berpaling waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru guru menurut kehendakNya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng!

Renungan:
Janganlah kita terlalu cepat megambil kesimpulan yang mematahkan pengharapan ketika menghadapi pencobaan karena Allah tidak akan menaruh pencobaan melebihi kemampuan kita.

Ayat Alkitab
Roma 5:5

“Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita”

Read more »

Selasa, 31 Desember 2013

Sukacita Atas Penyertaan


SUKACITA ATAS PENYERTAAN

Untuk semuanya itu kita patut mengatakan: “Ebenezer” sampai di sini Tuhan menolong kita. Inilah saatnya kita menundukkan kepala untuk mensyukuri semua kebaikan dan pertolongan Tuhan bagi kita baik kepada diri sendiri, keluarga, gereja bahkan Negara kita ini.
Inilah saatnya kita menengadah keatas di tahun yang baru, yang diberikan Tuhan kepada kita. Kita berdoa semoga Tuhan menyertai kita di dalam Tahun 2014. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di Tahun 2014 ini. Kita diibaratkan sebagai seorang wisatawan yang berkunjung ke suatu tempat yang sama sekali dia tidak tahu. Supaya kita mengetahui sejarah tempat itu maka kita memerlukan seorang gaet yang dapat memberikan penjelasan kepada kita. Demikianlah kita juga dalam memasuki tahun baru ini, tentu memerlukan seorang gaet yang akan menolong kita untuk menjalani tahun 2014 ini dan gaet itu tentulah Tuhan Allah, yang akan menolong dan menunjukkan jalan yang akan kita jalani.
            Dalam tahun bari ini, kita diberangkatkan oleh firman Tuhan dari Yesaya 61:10a-b “Aku bersukaria di dalam TUHAN, jiwaku bersorak-sorai di dalam Allahku”. Firman ini adalah merupakan respon umat terhadap keselamatan mereka. Yang dulunya mereka berada dalam pembuangan tetapi sekarang telah terbebas dari pembuangan itu. Itu sebabnya mereka bersorak-sorai atas tindakan Tuhan yang menyelamatkan itu. Nats ini jugalah yang disuarakan pada kita saat ini, menyatakan sukacita kita atas pertolongan dan penyertaan Tuhan yang telah memberi kebebasan dan keselamatan. Nats ini juga dipilih untuk menghantar kita umatnya, gerejanya. Tuhan Yesus kiranya memberkati gerejanya. Amin

Renungan:
Tuhan menyertai kita di dalam menjalani tahun baru ini.

Ayat Alkitab:
Yesaya 61: 10a-b

“Aku bersukaria di dalam Tuhan, jiwaku bersorak sorai di dalam Allahku, sebab ia mengenakan pakaian keselamatan kepadaku dan menyelubungi aku dengan jubah kebenaran”.

Selamat Tahun Baru 2014, Tuhan memberkati..

Read more »