Sabtu, 11 Januari 2014

Carilah Tuhan saat kesesakanMu

CARILAH TUHAN SAAT KESESAKANMU

            Inilah pengalaman seorang pemuda. Ketika saya masih muda, seorang kawan mengajak saya melakukan “saat teduh rutin” bersamanya. Saya tahu bahwa membaca Alkitab, berdoa, dan menghadiri kebaktian secara rutin sangatlah penting, dan saya ingin meluangkan waktu bersama Allah. Namun, rencana kawan saya itu tidak pernah berhasil saya terapkan. Saya memang mengikuti rutinitasnya selama satu atau dua minggu, bangun awal setiap pagi untuk membaca Alkitab dan berdoa. Saya menerapkan disiplin itu pada diri saya sendiri, seperti hal nya melakukan push-up 50 kali setiap hari. Namun itu tidak berlangsung lama. Akhirnya saya menyerah. Saya tidak tahu bagaimana memenuhi kerinduan hati saya untuk meluangkan waktu bersama Allah.
            Kemudian suatu hari saya tersentak saat membaca tentang ucapan yang dilontarkan yesus kepada perempuan di dekat sumur: “Bapa mencari” mereka yang akan menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yohanes4:23). Saat itulah saya menyadari bahwa Allah lah yang berinisiatif menaruh kerinduan di dalam hati saya supaya meluangkan waktu bersama-Nya.
            Pemazmur mengatakan bahwa ia menanggapi panggilan Tuhan untuk mencari wajahnya (Mazmur27:8). Gagasan bahwa Allah rindu untuk bersekutu dengn saya yang kini menarik saya ke dalam hadiratNya. Saat teduh saya bersama Allah tidak lagi menjadi kewajiban yang membosankan, melainkan sebagai tanggapan saya kepada Bapa yang rindu meluangkan waktu bersama saya. Manusia akan menemukan dan akan berhadapan muka muka apabila ia mencari wajah Tuhan. Jika Tuhan memalingkan wajahNya dari bangsa Israel karena mereka seringkali membuat jengkel hati Tuhan. Pembiaran yang dilakukan oleh Tuhan dengan tindakan mereka dihukum, mereka dibuang, mereka ditawan, Tuhan sedang tidak memperdulikan mereka, Allah pura pura tidak mau tahu, Allah sengaja membiarkan mereka ditindas oleh bangsa lain yang lebih kuat.

Renungan:
Sesungguhnya jika Tuhan membiarkan mereka dihukum, dibuang, ditindas bukan berarti mereka dibiarkan. Hukuman seperti itu hanya bersifat sementara agar mereka sadar akan dosa dan pelanggaran mereka.


Ayat Alkitab
Mazmur 10:1
“Mengapa Engkau berdiri jauh jauh, ya Tuhan, dan menyembunyikan diriMu dalam waktu-waktu kesesakan?”

Read more »

Jumat, 10 Januari 2014

Jangan melupakan kebaikan Tuhan

JANGAN MELUPAKAN KEBAIKAN TUHAN

            Setiap orang mungkin pernah mengalami kebaikan Tuhan dalam hidupnya, walaupun kadangkala kita tidak menyadari kebaikan Tuhan tersebut. Ada kebaikan Tuhan secara khusus yang kita alami, seperti berkat di kala kita kekurangan, kesehatan di kala kita sakit, namun banyak juga berkat Tuhan secara umum yang kita alami, seperti nafas hidup yang Dia beri setiap hari, makanan dan minuman yang kita makan/minum setiap harinya. Itu semua adalah kebaikan Tuhan yang tidak bisa kita lupakan.
            Itulah juga yang dialami oleh Daud. Dia telah mengalami banyak kebaikan Tuhan dalam hidupnya, baik itu kebaikan secara umum maupun kebaikan secara khusus, dan ia tidak mau melupakan kebaikan Tuhan tersebut dalam hidupnya. Ia bertekad untuk selalu mengingatnya. Ia berkata kepada dirinya sendiri, seperti kepada orang lain: Pujilah Tuhan hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikanNya. Ia mengingatkan dirinya sendiri/jiwanya agar ia jangan pernah melupakan kebaikan Tuhan dalam hidupnya.
            Namun seringkali kita begitu cepat lupa akan kebaikan Tuhan dalam hidup kita. Kita melupakannya mungkin ketika kita sudah mulai ada dalam puncak keberhasilan hidup kita. Kita mulai memegahkan diri kita seolah olah apa yang telah kita capai dan miliki dalam hidup kita adalah adalah semata-mata adalah karena kuat kita sendiri. Demikian juga kesusahan kesusahan hidup bisa membuat kita melupakan kebaikan Tuhan. Ketika kita tidak melihat pertolongan dan kebaikan Tuhan saat ini kita mulai banyak mengeluh dan bersungut sungut dalam hidup kita. Kita mulai melupakan kebaikan Tuhan yang pernah kita alami dalam hidup kita. Tetapi apapun itu kita tidak boleh melupakan kebaikan Tuhan dalam hidup kita, baik ketika kita dalam kadaan sukses maupun ketika kita masih mengalami banyak kesusahan hidup.
            Bunyi salah satu nyanyian lama berkata bahwa jika kita mulai menghitung hitung (mengingat) berkat (kebaikan) Tuhan dalam hidup kita maka kita akan kagum kepadaNya. Itulah kunci dan energy yang membuat kita mempu tetap memuji Tuhan di dalam hidup kita.


Renungan:
Pada dasarnya kita bukanlah orang baik – tetapi kita menjadi baik karena Allah terlebih dahulu menunjukkan kasih setia, dan kebaikannya. Karena itu, janganlah menutup apa terhadap berkat Tuhan yang kita terima.


Ayat Alkitab

Mazmur 103:13
“Seperti bapa sayang kepada anak anak nya, demikian Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia”

Read more »

Kamis, 09 Januari 2014

Jangan merugikan sesama

JANGAN MERUGIKAN SESAMA

            Setiap pertumbuhan membawa tekanan baru. Setiap tekanan baru membawa tantangan dan pilihan. Apakah kita mau berubah sesuai dengan pergerakan Allah dan tetap menjadi kantong kulit baru, yang sanggup diisi dengan air anggur baru? Atau, apakah kita mau mempertahankan apa yang sudah ada dan membangun perlindungan, agar supaya yang lalu tidak akan hilang walau akibatnya kita kehilangan fleksibilitas dan menjadi kanton kulit yang keras? Ingatlah bahwa kantong kulit yang keras tidak mampu menerima air anggur yang baru. Apa pilihan kita?
            Sayang sekali, bukti sejarah menunjukkan kecenderungan manusia adalah menjadi kantong kulit yang keras. Ini dikarenakan manusia pada umumnya takut terhadap hal hal yang baru dan merasa lebih aman dengan yag lama. Kecenderungan itu telah melihat Gereja mula-mula sehingga Rasul Paulus berkata kepada jemaat-jemaat Galatia: “Hai orang orang Galatia yang bodoh, siapakah yang telah mempesona kamu?
            Hukum perekonomian bagi umat Israel, melarang agar jangan saling merugikan. Tetapi hendaklah saling menguntungkan. Biasanya, pedagang yang ingin mendapat untung banyak ia akan berdusta kepada si pembeli. Dalam dunia ekonomi semakin banyak permintaan maka kecenderungan harga akan menaik. Pedagang seperti ini tidak perduli dengan kemampuan si pembeli. Baginya, yang terpenting bagaimana supaya mendapat untung yang lebih banyak.
            Larangan agar jangan saling merugikan antara pembeli dan penjual merupakan sikap etis cara berdagang dalam dunia Perjanjian Lama. Solidaritas social bagi umatNya perlu dipelihara, karena dengan demikianlah mereka bisa bertahan hidup menghadapi bangsa sekitar. Sebab, bangsa bangsa di sekitar Israel tidak memperdulikan kesulitan mereka apalagi mereka dianggap sebagai bangsa pendatang di daerah Palestina.
            Dalam dunia Perjanjian Baru, sikap etis berekonomi yang diajarkan Yesus, kita harus bersikap dan bertindak wajar terhadap sesame. Tuhan Yesus mengasihi orang miskin, orang yang tidak berpunya, mereka yang lapar. Hendaklah orang Kristen memperhatikan kebutuhan sesama. Karena mereka juga adalah bagian dari diri kita.

Renungan:
Sikap rakus, tamak, dan loba, jelas sangat merugikan orang lain. Kita diingatkan supaya jangan merugikan orang lain, meskipun kita berpeluang mendapat keuntungan sesuai keinginan namun nas kita mengatakan supaya jangan saling merugikan.

Ayat Alkitab
Imamat 25:14
“Apabila kamu menjual sesuatu kepada sesamamu atau membeli dari padanya, janganlah kamu merugikan satu sama lain”

Read more »

Rabu, 08 Januari 2014

Tuhan melawat hambaNya

TUHAN MELAWAT HAMBANYA

            Zakaria orang yang paling berbahagia karena Allah melalui Malaikat langsung memberitahukan tentang anaknya yang akan lahir. Elizabet, istri Zakaria yang berusia lanjut dan mandul, merasa tidak mungkin Ia akan mengandung. Namun, kejutan baginya Malaikat berkenan, melawat hambanya untuk memberitahukan bahwa dia akan mengandung seorang anak laki-laki, karena tidak percaya ia pun dibuat Tuhan bisu selama mengandung. Jika menurutnya hal melahirkan suatu yang tidak mungkin, namun bagi Tuhan tiada yang Mustahil. Inilah yang dirasakan oleh keluarga Zakaria, Tuhan itu baik, Tuhan itu mengasihi hambaNya.
            Kunjungan Malaikat Tuhan itu pula yang membuat Zakaria mampu bernubuat bahwa pernyataan Malaikat tentang anak yang lahir itu, bernama Yohanes, dialah sebagai perintis Mesias, Juruselamat yang akan datang ke dunia. Luapan kegembiraannya bukan sekedar ia beroleh karunia, berupa kelahiran sang anak, lebih dari itu. Nubuatnya, Messias, Juruselamat yang dinantikan segera memulai pelayananNya. Apa yang dirindukan bangsaNya, apa yang dinantikan yang diharapkan, dan yang ditunggu-tunggu bahwa telah tiba waktu untuk menyambut sang Messias. Keyakinan Zakaria karena Tuhan yang memberitahukan langsung,
            Tuhan memakai Yohanes Pembaptis sebagai perintis agar bangsa Israel menjadi percaya. Kini, Allah mengutus dan menetapkan Yohanes Pembaptis sebagai saksi untuk sang Mesias yang akan segera tampil di pentas kehidupan umatNya. Karakter Yohannes Pembaptis dikenal kesederhanaanya, dengan tema khotbah pertobatan, dan pembaptisan Yohanes di sungai Yordan. Inilah sebagai rintisan jalan bagi Messias. Proklamasi Injil sebagai kabar kesukaan akan memasuki kehidupan agamawi Israel.
            Perbuatan Allah kepada Zakaria, dan Pengutusan Yohanes Pembaptis sebagai perintis Messias, inilah Proklamasi Injil di tanah Palestina bahwa sejak itu kerajaan Allah telah tiba, Mari dengarkan, lihat, dan rasakan karya pelayanan sang Mesias. Jika mereka selama ini hanya sebatas menunggu janji, menantikan pengharapan para nubuatan. Tetapi, dengan kehadiran Yohannes Pembaptis semakin nyatalah bahwa Messias itu adalah Yesus, Kristus, Anak Allah. Kerendahan hati, kerendahan dirinya membuat orang banyak semakin yakin bahwa Kristus benar telah menjadi manusia di dalam diri Yesus.
Renungan:

Kita bersukacita apabila Tuhan melawat kita, seperti yang terjadi kepada Zakaria baginya yang dirasa tidak mungkin tetapi Allah justru menunjukkan belas kasihNya kepada mereka yang rendah hati.
Ayat Alkitab:

Lukas 1:67-68

“Dan Zakharia, ayahnya, penuh dengan Roh Kudus, lalu bernubua, katanya: “Terpujilah Tuhan Allah Israel, sebab Ia melawat umatNya dan membawa kelepasan baginya”


            

Read more »

Selasa, 07 Januari 2014

Takut Marah

Takut Marah
Sebelum merayakan Paskah, Godi mempunyai keinginan untuk mengakui dosa kepada pendetanya.
Godi: Pak Pendeta, saya mau mengaku dosa.
Pendeta: Apa yang mau kau akui?
Godi: Saya telah mencuri seekor bebek.
Pendeta: Kamu harus bertemu pemiliknya dan meminta maaf.
Godi: Saya takut.
Pendeta: Kenapa takut?
Godi: Masalahnya bebek itu sudah saya masak dan saya makan.
Pendeta: Oh, begitu. Jujur saja, pemilik bebek itu pasti ikhlas.
Godi: Syukurlah kalau begitu, Pak Pendeta.
Pendeta: Kalau boleh tahu, bebek siapa yang kamu curi?

Godi: Milik Bapak.
Pendeta: #@$@%@%@^*&^

Hehehe, semoga anda terhibur..
GBU
J

Read more »

Jangan gentar memberitakan Injil

JANGAN GENTAR MEMBERITAKAN INJIL

Di ayat kesebelas Paulus mengatakan, “kenakanlah seluruh perlengkapan persenjataan Allah”. Sedangkan pada ayat 14, Paulus merinci alat perlengkapan perang, yaitu; berdiri tegap, berikat pinggang kebenaran, kaki berkasut kerelaan. Rasul Paulus memakai bahasa frasa sastra, menggambarkan tugas dengan alat peraga dunia militer. Apakah maksud dari frasa ini? Perlengkapan senjata Allah merupakan suatu ungkapan metafora yang menunjukkan seperangkat perlindungan yang Allah sediakan. John Stott menyatakan keenam metafora tersebut menggambarkan kebenaran, ketulusan, berita injil damai sejahtera, iman, keselamatan, dan Firman. Semua sudah Allah sediakan.
Tugas kita hanyalah mengenakannya. Untuk mengenakan kebenaran tentu kita perlu mengerti kebenaran Allah dan menghidupi kebenaran itu. Ketika mengenakan ketulusan tentu kita perlu terus menerus mengoreksi hati dan pikiran kita. Dalam mengenakan berita injil tentu kita perlu memberitakan keselamatan kepada setiap orang. Untuk mengenakan iman tentu kita perlu berserah di dalam doa. Pada saat kita mengenakan keselamatan tentu kita perlu mengingat karya Kristus di kayu salib. Dan untuk mengenakan Firman tentu kita harus mengerti dan menguasai Alkitab dengan benar. Secara sederhana mengenakan perlengkapan senjata Allah artinya, memiliki kerohanian yang sehat, mempersiapkan perlengkapan yang dibutuhkan, dan itu diperoleh dari disiplin rohani yang baik. (doa, saat teduh, PI pribadi, Pa pribadi, Bible reading).
Memang untuk bisa bertahan terhadap strategi iblis, Allah akan memberi kita kuasa, tetapi kita juga punya tanggung jawab untuk mengusahakan kesehatan rohani kita. Inilah strategi tandingan yang Firman Tuhan nyatakan. Berkisar kepada Tuhan dan berusaha memiliki kehidupan rohani yang sehat.
Ada tiga kata kunci sebagai persiapan memberitakan Injil, yaitu: Siap, jangan terlalu banyak pertimbangan, jangan menunda panggilan Tuhan, siap sedia setiap saat. Kebenaran, dalam memberitakan Injil, kita harus berani menegakkan kebenaran, janganlah dikalahkan oleh tipu muslihat Dunia. Orang benar mungkin bisa dikalahkan tetapi kebenaran tidak akan kalah dengan kuasa Firman Allah. Kerelaan; memberitakan injil hendaknya dilakukan tanpa paksaan, jangan karena disuruh, tetapi Allah yang memanggil dan dia yang memberi upah.

Renungan:

Allah memanggil dan mengutus para hambaNya pastilah Ia memperlengkapinya dengan kesiapan yang cukup. Strategi memberitakan Injil diibaratkan kepada orang yang akan maju ke medan perang. Karena itu, hendaklah kita siap sedia diutus memberitakan Injil.


Ayat Alkitab:

Efesus 6:14-15
“Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakn Injil damai sejahtera”.

Read more »

Senin, 06 Januari 2014

Sudahkah anda melihat Keselamatan

SUDAHKAH ANDA MELIHAT KESELAMATAN

Setiap orang memiliki kerinduan (keinginan), cita cita yang hendak dicapainya, termasuk orang Lansia masih mempunyai cita cita/keinginan/kerinduan. Di dalam Lukas 2 dikisahkan tentang seorang lansia bernama Simeon, yang mempunyai kerinduan untuk bertemu muka dengan muka kepada Mesias. Pada waktu kerinduan hatinya terpenuhi. Dia berkata: “Sekarang Tuhan, biarkanlah hambaMu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firmanMu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari padaMu…” (Lukas 2:29,30)
            Bagaimanakah keadaan hati dan kehidupan Simeon? Simeon adalah seorang yang benar. Simeon adalah seorang yang saleh. Simeon adalah seorang yang hidupnya dikuasai dan dipimpin oleh Roh Kudus. Simeon adalah yang rindu bertemu muka dengan muka dengan Mesias/Tuhan. Ada 4 (empat) hal hendaknya dimiliki orang Kristen,  Pertama, Hidup sebagai orang yang benar. Seorang yang benar berarti ia seorang yang hatinya lurus dan tulus. Orang yang benar bersumber dari hati, berdasarkan iman yang benar kepada Allah serta kasih dan memiliki integritas tinggi, “yaitu, yang ada di hati ada di mulut. Perbuatan dengan hatinya sama. Seorang yang benar akan berbicara benar, tidak bohong dan menipu, berlaku jujur dan bisa dipercaya, tidak akan berbuat curang.
            Kedua, hidup sebagai orang saleh, berarti ia seorang yang beriman, takut akan Tuhan, beribadah kepada Tuhan, hormat kepada Tuhan, serta suka menyenangkan hati Tuhan. Ketiga, adanya sikap rindu kepada Tuhan. Orang seperti ini siang dan malam senantiasa mencari Tuhan. Ia menyerahkan dirinya untuk dipimpin oleh Tuhan. Keempat, mengakui kemahakuasaan Tuhan atas hidupnya. Bangsa Israel menyadari bahwa Mesias adalah satu satu nya raja yang diharapkan oleh mereka sebagai pemimpin politik dan untuk melawan bangsa bangsa yang dianggap mereka lebih besar dan lebih kuat.

Renungan:
Sebagaimana Simeon telah bertemu dengan sang Juruselamat seperti yang dinubuatkan dan dia sudah merasa lega, puas, dan percaya terhadap masa depan bangsanya. Karena itu janganlah takut karena Yesus telah menjadi Juruselamat umat manusia dan dunia.


Ayat Alkitab:
Lukas 2:29-30
“Sekarang, Tuhan, biarkanlah hambaMu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firmanMu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari padaMu”

Read more »

Pencuri Ayam Bertobat

Pencuri Ayam Bertobat

Ada seorang pencuri ayam yang sangat terkenal di kampungnya. Hampir setiap minggu dia sukses mencuri ayam tetangganya. Suatu hari dia mendatangi seorang pendeta untuk menyatakan tobat.


Pencuri : "Pak Pendeta, saya akan bertobat, saya kemarin telah mencuri ayam... Maafkanlah dosa saya."
Pendeta : "Saya tidak bisa mengampunimu, hanya Tuhan yang bisa melakukannya."
Pencuri : "Lalu, apa yang harus saya lakukan pada ayam curian saya ini?"
Pendeta : "Kembalikannlah ayam itu kepada pemiliknya."
Pencuri : "Maukah Pak Pendeta mengambil ayam ini?"
Pendeta : "Tidak, saya sudah bilang kembalikan saja kepada pemiliknya."
Pencuri : "Jadi Pak Pendeta benar-benar tidak mau menerima ayam ini?"
Pendeta : "Sekali tidak, tetap tidak!
Pencuri : "Bener nih??"
Pendeta : "Iya, betul!!"
Pencuri : "Lantas bagaimana kalau pemiliknya tetap bersikeras tidak mau menerima ayam ini?"
Pendeta : "Hm, kalau begitu bawa pulang saja ayam itu dan rawatlah baik-baik!"
Pencuri : "Terima kasih, Pak Pendeta."



Kemudian dia pun pulang ke rumah dengan ayamnya, Pak Pendeta pun masuk ke dalam rumah dan kaget sekali karena AYAMNYA HILANG SATU!!

Hehehe, semoga anda terhibur :)

Read more »

Minggu, 05 Januari 2014

TUHAN MEMIMPIN UMATNYA

Hari ini adalah hari kelima setelah kita memasuki Tahun yang baru 2014, dalam tahun yang baru ini tentu banyak hal yang indah yang ingin kita dapatkan. Pengharapan kita tentu saja tahun ini  akan lebih baik dari tahun sebelumnya,  baik yang dimaksud tentu dari semua aspek kehidupan kita. Jika pengharapan tersebut menjadi perjuangan kita tentu kita harus membekali diri dengan berbagai perlengkapan. Salah satu perlengkapan yang harus kita miliki adalah keyakinan /  iman bahwa didalam  Tuhan semua bisa kita dapatkan.
Pada minggu ini kita diingatkan tentang kasih Allah yang dinyatakan melalui Yeremia terhadap umat pilihanNya yang dipulihkan. Yeremia 30 : 3 menunjukkan bahwa Allah berjanji akan memulihkan Israel dan Yehuda serta mengembalikan mereka ke negeri mereka. Israel dan Yehuda mengalami penderitaan didalam pembuangan tetapi mereka tidak pernah lepas dari pantauan Allah. Didalam Allah bangsa Israel dan Yehuda mendapatkan kemenangan kembali ke tanah air mereka. Pada pasal 31 ini Allah menyatakan perjanjian baru kepada umatNya, perjanjian tersebut menunjukkan bagaimana Allah sangat mengasihi mereka. Ungkapan kasih karunia, memberi kasih yang kekal, membangun, memberi sukacita, memberi hasil dari kebun anggur, naik kepada kemuliaan Allah (31:1-7) jelas menyatakan peranan Allah (inisiatif Allah yang mengubah umatNya). Cara Allah menyatakan kasihNya ditunjukkan dengan kembali mengumpulkan umatNya yang telah bercerai berai dan memimpin mereka untuk mendapat sukacita, kesejahteraan dan kemakmuran.
Allah menyatakan sebagaimana Dia sebagai Bapa (ayat 9), mengubah perkabungan menjadi sukacita (ayat 13), serta menjadikan imam didalam kelimpahan (ayat 14). Semua janji yang diungkapkan ini menjadi bukti bahwa Allah adalah segala-galanya. Didalam Allah umatNya mendapatkan keselamatan, kegembiraan dan kemenangan. Belajar dari pernyataan Allah yang mengasihi umatNya didalam kitab Yeremia 31 ini kita diantar untuk melihat perjalanan hidup kita kedepan mau seperti apa.....
Perjalanan hidup bangsa Israel yang meninggalkan Allah menjadikan mereka hidup didalam kelemahan, kekalahan, sekaligus penderitaan yang besar. Sekalipun Allah tetap mengasihi mereka dengan memulihkannya bukan berarti kita selalu mendapatkan pemulihan oleh Allah didalam konteks kita jaman ini, sebab kita selalu dipulihkan dengan kasihNya yang besar melalui Yesus Kristus. Artinya hidup kita telah diperbaharui olehNya didalam Yesus Kristus. Rasul Paulus juga menekankan bagaimana orang percaya telah dipilih oleh Kristus serta menjadikannya didalam kekudusan dengan memberikan berkat rohani dari sorga ( Efesus 1:3).
Jadi ketika kita menatap kedepan / masa depan, kita patut bersyukur sebagai anak Allah yang telah dipilihNya. Selanjutnya tentu bagaimana kita menjalani kehidupan ini hanya mengandalkan Yesus, sebab kita tidak dapat mengandalkan diri kita sendiri, orang lain, atau apa saja yang ada disekitar kita didalam menjalani hidup ini, karena semua mempunyai keterbatasan. Hanya didalam Allah lah yang tidak mempunyai keterbatasan. Allah yang mampu menjaga dan menyelamatkan kita menuju kemuliaanNya. Sebagai orang percaya kita tidak menghendaki mendapatkan kegagalan dan kekalahan dalam hidup kita (tahun 2014 ini). Jika bangsa Isreal pernah gagal dan kalah serta menderita karena mengandalkan diri sendiri, maka sebagai umat Allah yang baru kita tidak boleh mengandalkan diri sendiri atau orang lain sebab hanya Allah yang didalam diri Yesus Kristus lah yang mampu menjaga dan menggembalakan kita.

Bvr.E.Pandiangan. :)

Read more »