Kamis, 09 Januari 2014

Jangan merugikan sesama

JANGAN MERUGIKAN SESAMA

            Setiap pertumbuhan membawa tekanan baru. Setiap tekanan baru membawa tantangan dan pilihan. Apakah kita mau berubah sesuai dengan pergerakan Allah dan tetap menjadi kantong kulit baru, yang sanggup diisi dengan air anggur baru? Atau, apakah kita mau mempertahankan apa yang sudah ada dan membangun perlindungan, agar supaya yang lalu tidak akan hilang walau akibatnya kita kehilangan fleksibilitas dan menjadi kanton kulit yang keras? Ingatlah bahwa kantong kulit yang keras tidak mampu menerima air anggur yang baru. Apa pilihan kita?
            Sayang sekali, bukti sejarah menunjukkan kecenderungan manusia adalah menjadi kantong kulit yang keras. Ini dikarenakan manusia pada umumnya takut terhadap hal hal yang baru dan merasa lebih aman dengan yag lama. Kecenderungan itu telah melihat Gereja mula-mula sehingga Rasul Paulus berkata kepada jemaat-jemaat Galatia: “Hai orang orang Galatia yang bodoh, siapakah yang telah mempesona kamu?
            Hukum perekonomian bagi umat Israel, melarang agar jangan saling merugikan. Tetapi hendaklah saling menguntungkan. Biasanya, pedagang yang ingin mendapat untung banyak ia akan berdusta kepada si pembeli. Dalam dunia ekonomi semakin banyak permintaan maka kecenderungan harga akan menaik. Pedagang seperti ini tidak perduli dengan kemampuan si pembeli. Baginya, yang terpenting bagaimana supaya mendapat untung yang lebih banyak.
            Larangan agar jangan saling merugikan antara pembeli dan penjual merupakan sikap etis cara berdagang dalam dunia Perjanjian Lama. Solidaritas social bagi umatNya perlu dipelihara, karena dengan demikianlah mereka bisa bertahan hidup menghadapi bangsa sekitar. Sebab, bangsa bangsa di sekitar Israel tidak memperdulikan kesulitan mereka apalagi mereka dianggap sebagai bangsa pendatang di daerah Palestina.
            Dalam dunia Perjanjian Baru, sikap etis berekonomi yang diajarkan Yesus, kita harus bersikap dan bertindak wajar terhadap sesame. Tuhan Yesus mengasihi orang miskin, orang yang tidak berpunya, mereka yang lapar. Hendaklah orang Kristen memperhatikan kebutuhan sesama. Karena mereka juga adalah bagian dari diri kita.

Renungan:
Sikap rakus, tamak, dan loba, jelas sangat merugikan orang lain. Kita diingatkan supaya jangan merugikan orang lain, meskipun kita berpeluang mendapat keuntungan sesuai keinginan namun nas kita mengatakan supaya jangan saling merugikan.

Ayat Alkitab
Imamat 25:14
“Apabila kamu menjual sesuatu kepada sesamamu atau membeli dari padanya, janganlah kamu merugikan satu sama lain”